Terserah apa katamu, tapi aku telah menang sejauh ini. Dan baru saja satu piala lain kuraih tanpa aku harus campur tangan. Lagi. Dari mana datangnya semua kesesuaian ini? Kemampuan analisa sayang! Dipadu dengan bakat alami mengenai psikologis dan intuisi tajam. Dengan kesemuanya itu, gerakanmu, mereka, mudah sekali dibaca. Dari sana aku bisa menentukan kemenanganku. Apa kau tidak bisa percaya? Memang sebaiknya tidak. Jangan. Aku akan kesulitan jika kau percaya kata-kataku itu. Sebab itulah kebenarannya. Kenyataan.
Tolong jangan melihatku seperti itu! Aku hanya manusia biasa. Kombinasi sempurna dari Iblis dan Malaikat! Sama sepertimu. Ah, tidak, tidak. Kejahatan, keirihatian, kedengkian dalam dirimu jauh lebih kuat dariku.
Sekali lagi, aku menang! Dan aku berhasil mencuri skor baru!
Luar biasa bukan? Dan teruslah berkerumun dengan orang-orang yang memakai topengnya untuk mengasihanimu. Karena itu salah satu kunci kemenanganku.
Bencilah aku sesukamu. Panggil aku apa maumu. Hasut dan adu dombalah orang-orang di sekitarmu dan aku semaumu. Aku tak akan melawan. Kebenaran akan terungkap.
Namun di sinilah satu-satunya tempat aku bisa sedikit sombong. Tempat aku bisa memberi keleluasan pada diriku untuk tertawa melihatmu dan mereka yang sama sombongnya itu.
Oh, ya. ya. Aku sombong. Tapi aku menang sayang. Aku menang.
Dan apakah kita akan tetap pada garis paralel yang saling berseberangan? Itu tergantung kau. Tergantung kau. Toh, aku bahkan tak perlu memainkan kartuku. Bahkan kartu ASku. Karena kemenanganku telah terjamin oleh bakat alami ini.
Oh, sebagai penutup. Aku memiliki sebuah game. Aku menyebutnya akhir ‘Kisah Cinta Palsu’. Bisa kuberikan kau waktu 7 bulan sebagai batasnya? Sebenarnya terlalu lama. Apa? Dengan toleransi waktu 3 bulan? Tidak, terlalu lama. Sebulan. Dan semua akan berakhir di sana. Benar. Di sana.
Aku tak bisa menahan diri menulis di sini untuk membalas surat kalengmu. Apa lagi aku masih dimabuk kemenangan. Maka ini adalah surat tantangan yang lain. Bisakah kau tetap memusuhiku?
Well, Sampai jumpa, kekasih! Demi Jove, Aku benar-benar menikmati setiap tikamanmu. ~AnViL-
Sejauh ini, semuanya tetap sesuai dengan Sillhouette’s Project yang kutuliskan dalam Buku Hitam. Bahkan hampir pada semua detail-detail yang telah kutulis.
Namun, mereka memang beruntung. The 11’ HOPES benar-benar menolong mereka -sesuai Buku Hitam juga. But I wonder, How long it will be?
Nyatanya, memang hanya sampai di situ saja level mereka. Adegan hari itu memang sungguh menarik. Aku cukup duduk manis dengan popcorn di tangan. Kemudian tertawa terpingkal-pingkal di setiap adegan. Karena pertunjukan komedi mereka begitu menggelitik. Kesombongan yang disajikan di atas kecacatan dan ketidakmampuan mereka. Keangkuhan yang entah bagaimana bisa begitu serasi dengan kelancangan mereka.
Aku benar-benar menikmatinya. Mainkan terus lawak itu.
Ingin kuberitahukan pada mereka, biar saja mereka membenciku. Tidak masalah. Tetapi kenyataan dan rahasia yang berasal dan dimiliki orang lain, aku memegang lebih dari mereka. Remehkan aku semau kalian. Aku pasti menang pada akhirnya. Untuk menertawakan kalian yang sombong dan tidak tahu diri.
Ah, teruslah kalian tidak percaya padaku. Tetapi jika orang yang selama ini aku yakin telah terus mendukung kalian mengatakan kalian itu payah-tolol-goblog, kalain mau bilang apa? Hahahaha… Bahkan orang di luar organisasi! Tanpa aku perlu menyebut apa pun secara tendensius.
Demi Jove! Teruskanlah dan abaikan diriku. Sesuka kalian. AKu tidak peduli. Karena aku tetap menikmati tingkah kalian yang sesuai dengan ‘skenario’ dalam buku hitam.
Sebenarnya aku sudah tak terlalu bermasalah atau, lebih tepatnya, peduli pada kalian. Luka yang kalian torehkan juga sebenarnya telah dan selalu cepat hilang. Tapi akan terus muncul ketika aku melihat keangkuhan di atas kepayahan kalian itu itu.
Dengan sedikit rasa cinta yang tersisa, maka ingin kukatakan kepada mereka, yang kubenci dengan ribuan alasan:
“Jadilah lebih baik, atau sisi jahat gue akan terus menertawakan kalian.”
Dan bagaimana kalau kita berlomba? Kalian bisa menang karena berkelompok, aku akan membuktikan bahwa aku akan menang dan berprestasi secara individu.
Try your best! Hahahahahaha…
I do.
(Source: talkativ)
“Heee.. So, tomorrow is your birthday?” A chat suddenly popped out. From the same girl again.
“Oh, you remind me. Hahahaha… *fake laughter* I didn’t even remember actually. Neither I do care about it.”
“Yah, you may not care about the birthday greets, birthday gifts, and the ceremony, but you might not not care about getting older, right?”
“Ah, I don’t care about that either. everyday I’m getting older, what’s the big deal?”
“well, it is a big deal…”
“Not for me.” I wasn’t really interested in that kind of conversation.
“By today, you can tell that your age is 20, 21, may be? And tomorrow you can say that you are 21, 22.”
What a silly conversation, I thought.
“I don’t care with number.” I replied uninterestedly.
“I can say that I am 17 if I want. I can say that I am 20, also. Or any number I can mention that’s makes sense. It’s just number.
Then, a moment of silent.
“Well, I must get up early tomorrow. See yah!” She said.
“See yah”
What does she want by greet me, chat me, tweet me everyday?
She should know when to give up. Before she gets hurt even deeper.
She should know as well, just because I went out on a date it doesn’t mean I was interested on her. It was just like the other dates with other girls.
She should know…
(via wienerdrizzle)


